"I believe there is no new thing under the sun. Everyone just to inspire & get inspired."
—Enjel Hutasoit—

8 Aktivitas yang Pantang Dilakukan Saat Patah Hati

1 comment
"You see," she said "your first love isn't the first person you give your heart to - it's the first one who break it." Lang Leav
Mengingat jumlah pantangan aktivitas ketika patah hati ini ada banyak, mari kita langsung bahas satu per satu. Pertama, adalah pantang bagimu untuk meng... (Apa? Harus ada prolog?) Baiklah pembaca yang budiman, mari kita masuk ke bagian prolog. Iya, dari sini lanjutkan saja membaca sampai ke paragraf dua. Mengapa? Karena paragraf pertama sudah penuh.
Layaknya rasa jatuh cinta, rasa patah hati pun memiliki misteri dan prinsip yang serupa. 'Datang tiba-tiba, pulang pelan-pelan'. Tak percaya? Coba saja tanya pada mereka (yang sedang jatuh cinta), “Bagaimana kamu bisa jatuh cinta dengannya?” Jawaban yang paling sering adalah, “Tiba-tiba... cinta datang kepadaku.” Sekali lagi, tanya pada mereka (yang sedang patah hati, kalau memungkinkan pada orang yang sama), “Bagaimana mungkin ini terjadi?” Jawaban yang paling sering adalah, “Aku pun tak menyangka, semuanya terjadi tiba-tiba.” Dari sini, mari sepakat bahwa prinsip ‘datang tiba-tiba’ adalah relatif benar.

Permasalahnya sekarang adalah prinsip ‘pulang pelan-pelan’ tersebut. Sangat jarang kita temui ada seseorang telah sembuh dari patah hatinya dengan tiba-tiba. Alih-alih menghibur diri, justru membohongi diri sendiri. Berdalih dari prinsip patah hati yang pulang pelan-pelan, justru mempertahankan patah hati yang bolak-balik di tempat yang sama.

Nah, agar kamu tak terkesan munafik tapi tetap terlihat asik dengan aktivitas patah hatimu, berikut beberapa pantangan yang perlu kamu hindari untuk mempercepat pulangnya patah hati ke tempat yang semestinya.

1. Pantang Terus Terkoneksi (Sementara) 

"Tidak baik memutus silaturahmi" dan itu memang betul. Oleh sebabnya ada kata 'sementara' terselip disana. Jika diselidiki lebih dalam, terkadang diri kita sendiri enggan untuk move on. Ini ibarat seorang  yang ingin menurunkan berat badan lalu mengatakan 'tak baik jika tak makan secara teratur.'. Maka itu betul. Yang menjadi masalah adalah itu dijadikan alasan untuk tetap mengkonsumsi kalori melebihi kebutuhannya. Apakah analogi cukup sepadan? Mari kita lihat di paragraf selanjutnya.

Jaman dahulu kala... atau sebut saja jaman 1920'an, sarana telekomunikasi sangat terbatas jika tak mau disebut nyaris tak ada. Hal ini digambarkan dalam berbagai kisah romantika sastra klasik yang mengisahkan tentang seorang pujangga yang ditolak atau mungkin dikhianati dan akhirnya patah hati. Setelahnya, sang pujangga pergi meninggalkan desa menuju kota dan ketika mencapai kesuksesan kembali ke desa tersebut. Ini mungkin hanya sebuah dongeng, namun tetap membawa nilai bahwa ketika sang pujangga pergi ke kota tidak benar-benar memutuskan hubungan, karena pada akhirnya ia kembali. Meskipun bukan untuk menjalin hubungan dengan orang yang sama, namun menunjukkan bahwa ia telah berhasil.

Penggalan kisah romantika itu masih terus menjadi bagian dari banyak orang, bahkan hingga kini. Namun, semakin meningkatnya teknologi komunikasi membuat generasi saat ini (dominannya Generasi-Y) sangat rentan dari wabah susah move on. Generasi saat ini bahkan bisa menjalin hubungan walau terpisah benua. Lalu bagaimana mungkin memutuskan koneksi yang nyaris mustahil? Jawabannya ada ditangan kamu masing-masing. Satu-satunya kesulitan terbesar adalah melawan kemauan diri sendiri. Kalau kita sudah sepakat untuk melawan keinginan tersebut, silakan lanjut ke point selanjutnya.

2. Pantang Stalking Media Sosial

Sebenarnya point no.2 sampai no.8 adalah uraian dari point no.1. Mengapa bisa begitu? Terserah penulisnya, kalau boleh menjawab. Pantang melakukan stalking. Maka sangat disarankan untuk menghapus koneksi dari media sosial termasuk dan tidak sebatas facebook, twitter, instagram, path, bbm, WA, snapchat dan skype. Ini terkesan (terbaca) arogan dan kekanak-kanakan, namun sebenarnya ini akan sangat efektif buat kamu yang suka mencari-cari alasan untuk kegiatan stalking yang berakhir di sesak move on.

3. Pantang Menyimpan Barang Kenang-Kenangan

Untuk menghindari benturan momen ketika kamu sedang bengong dan tiba-tiba terkesiap memandang barang pemberiannya. Episode selanjutnya biasanya akan terdengar gesekan biola, kemudian bulan mendekat, menarik kenangan, berlari dari kenyataan, kemudian.... mari kita hentikan sinetron ini. Paling tidak, cegah dari awal. Caranya? Hindari kemungkinan ini dengan membuang (hibahkan pada orang tak dikenal) semua barang tersebut. Tentang kenangan selanjutnya bisa menyusul.

4. Pantang Berkomunikasi dengan Orang Terdekatnya

Sekali lagi, ini bukan berlaku seumur hidup. Ini hanya untuk membuat kita fokus terhadap masa depan. Menarik diri dari lingkungan terdekatnya adalah salah satu upaya agar terhindar dari 'kenangan' yang membuat kamu sulit memandang ke depan.

5.Pantang Reuni Sebelum Move On

Reuni tak jauh dari kembali membawa kamu ke bagian tersulit yang harusnya sudah kamu lalui. Silakan reuni jika kau yakin telah move on. Silakan reuni jika kau yakin tak akan bertemu dengan si mantan. Silakan reuni jika kamu sudah dewasa dan menerima segala kemungkinan yang bisa terjadi.

6. Pantang Sendiri

Sendiri disini bisa bermakna ganda bahkan multipel. Sendiri bisa dalam arti lajang. Sendiri bisa juga dalam arti kamu tak memiliki kegiatan yang berujung kepada kebengongan. Cari kesibukan, keramaian, kesukaan, kalau bisa kekasih.

7. Pantang Cari Alasan

Sering kita mencari alasan atau pembenaran tentang apa yang kita lakukan, padahal kita sudah berkomitmen. Ini merupakan point terberat karena ini menyangkut integritas. Yang membuat komitmen adalah diri kita sendiri, maka jika pun melanggar maka tak seorang pun tahu. Disini kita bisa menilai seberapa integritas kita terhadap komitmen yang kita buat.

8. Pantang Menyerah

Poin terakhir kalau dalam partitur digambarkan dengan titik dua (:) artinya kembali ulangi. Ulangi? Silakan ulangin point 1-7, jika sudah menyerah lanjut ke poin ke-8 yang artinya ulangi poin ke-1 sampai ke-7. Menyerah? Pantang menyerah, Gen-Y!
Kesimpulan yang bisa ditarik dari semua hal yang saya sebut di atas adalah tidak ada. Kamu tidak perlu kamu melakukan anjuran tersebut jika kamu sangat yakin bahwa kemungkinan-kemungkinan yang saya ajukan bisa kamu tangkis denga kepercayaan diri. 

Intinya, tidak ada satu pun kata bijak atau nasihat yang absolut cocok untuk semua orang. Maksudnya, orang yang paling tepat dan paling bisa memberikan nasihat terhadap kamu adalah dirimu sendiri. Semua uraian ini dan artikel-artikel di luar sana hanyalah sebuah pandangan. Gunanya untuk membantu kamu menentukan pilihanmu, Gen-Y.
N O T E :
Ingin melihat catatan hari lainnya? Klik “ALMANAK” atau “Select a Date” pada sidebar.
CONTACT ME” jika kamu menemukan kesalahan, typo atau punya kritik untuk artikel ini.

1 comment :

Post a Comment