"I believe there is no new thing under the sun. Everyone just to inspire & get inspired."
—Enjel Hutasoit—


Wacana pemindahan ibukota oleh Presiden Jokowi masih hangat diperbincangkan. Palangkaraya adalah alternatif yang paling sering terdengar. Bung Karno, sang penggagas pertama, mempertimbangkan kota ini karena letaknya yang di tengah Pulau Kalimantan dan Kalimantan adalah pulau terbesar Indonesia yang terletak di tengah gugus NKRI.

Secara geologis, Palangkaraya tidak termasuk ring of fire, tidak memiliki gunung api aktif, bukan daerah gempa dan bebas tsunami.

Di tengah keunggulannya yang seolah anti-bencana, kota ini menyimpan sejarah kelam Indonesia. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seluas 32 wilayah Jakarta pada Agustus-November 2015 lalu tercatat sebagai salah satu kebakaran terburuk yang pernah terjadi di Indonesia.

Dampak dan kerugian mencakup di semua lini. Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menyebutkan, bencana kabut asap di wilayah Sumatera dan Kalimantan menewaskan kurang lebih 19 orang.

Dinas Kesehatan Provinsi Riau, dalam periode 29 Juni- 27 September 2015, sebanyak 44.871 orang terkena risiko asap. Dari angka itu, sebanyak 37.396 orang lainnya menderita ISPA, 656 orang menderita pneumonia, 1.702 orang terkena asma, 2.207 orang menderita penyakit mata, dan penyakit kulit sebanyak 2.911 orang.

Dampak terhadap ekonomi, laporan Bank Dunia mencatat total kerugian Indonesia akibat bencana kabut asap tahun 2015 telah melampaui 16 miliar dolar AS atau dua kali dari rekonstruksi akibat tsunami di Aceh tahun 2004.

Kerugian Masif Kebakaran Hutan Indonesia

Penyebab Karhutla Tahun 2015

"Pembakaran" hutan gambut adalah faktor utama tragedi ini. 55% kebakaran terjadi pada hutan gambut yang notabene sangat pantang dibakar dan ilegal menurut hukum di Indonesia.

"Gambut berperan penting dalam menyerap 75% karbon di dunia. Lahan gambut tak boleh dibakar atau dikeringkan untuk dijadikan lahan perkebunan. Hal ini bisa memicu terjadinya karhutla." Ujar Zulfikar Muriyadi, Koor MRV REDD.


Mengapa Pembakaran Hutan Gambut Lebih Berbahaya?

Gambut adalah hamparan yang terbentuk dari sisa-sisa pohon, rerumputan, lumut, dan jasad hewan yang membusuk. Timbunan tersebut menumpuk selama ribuan tahun hingga membentuk endapan yang tebal.

Pengeringan lahan gambut akan mempercepat pembusukan bahan organik yang melepaskan karbondioksida (CO2) dalam prosesnya. Bersama bahan organik yang membusuk, gambut pun menyusut. Lahan gambut kemudian dikeringkan lagi untuk mencegah air kembali membanjiri gambut. Proses pengeringan gambut yang terus berlangsung ini mengeluarkan emisi CO2 secara terus menerus dan membuat lahan gambut rentan terbakar.

Dalam video ini dijelaskan lebih rinci tentang pentingnya lahan gambut:



Siapa yang Bertanggung Jawab terhadap Kebakaran Hutan Gambut Tahun 2015

Kebakaran hutan bukanlah kasus yang hanya sekali terjadi, melainkan telah terjadi berulangkali. Mempertanyakan siapa yang paling bertanggung jawab hanya akan berujung pada aksi saling tunjuk dan lempar tanggung jawab.

Salah satu organisasi lingkungan meminta tanggung jawab negara terkait asap. Di sisi lain, pihak koorporasi meminta Pemerintah tidak terpaku penindakan karena ada regulasi yang dapat menimbulkan multitafsir. Di sisi lainnya, masyarakat (netizen) menyerukan isu ini agar seluruh dunia mendengar, dan memperoleh hampir dari 2 juta Tweet dan menjadi trending of year tahun 2015.

Apa yang Harus Diubah dan Dikerjakan

Seluruh lapisan masyarakat, pemerintah, perusahaan, dan organisasi masyarakat sipil harusnya dapat saling terhubung untuk mendukung restorasi lahan gambut demi keberlangsungan ekonomi untuk masyarakat Indonesia dan perlindungan lingkungan.

Pantau Gambut sebagai wadah atau platform daring menyediakan akses terhadap informasi mengenai perkembangan kegiatan dan komitmen restorasi gambut yang dilakukan oleh segenap pemangku kepentingan di Indonesia.

Platform Pantau Gambut berfungsi sebagai sarana pemantauan kinerja pengelolaan dan restorasi gambut yang dilakukan oleh pemerintah baik tingkat nasional maupun daerah, organisasi masyarakat sipil, dan pelaku usaha. Fungsi sarana tersebut adalah:

  • Sebagai jembatan komunikasi dan koordinasi antar organisasi anggota platform 
  • Media pengumpulan data dan informasi terkait kegiatan restorasi gambut baik yang dilakukan pemerintah maupun organisasi masyarakat sipil 
  • Perangkat untuk menampilkan kegiatan organisasi masing-masing anggota sehubungan dengan pengelolaan, advokasi, dan restorasi lahan gambut

Dengan menggabungkan teknologi, data terbuka, dan jaringan masyarakat, masyarakat dapat memantau komitmen restorasi lahan gambut yang dilakukan oleh pemerintah, organisasi masyarakat sipil, serta pelaku usaha.

Melalui analisis perkembangan serta kendala realisasi komitmen pelaku restorasi, diharapkan dapat tercipta gagasan yang dapat mendukung target restorasi gambut di tingkat nasional.

Pantau Gambut: Menjaga Indonesia dengan Gambut


HCS Approach Toolkit 2.0: Connecting The Dots between Government, Businesses & NGO

"Women are emerging as a major force for change. Countries that have invested in girls' education and removed legal barriers that prevent women from achieving their potential are now seeing the benefits." 
Sri Mulyani Indrawati



 




P E N G A L A M A  N    T E N  T A N  G    M E N J A D I    S E O R A N G   P E R E M P U A N







S O S O K    P E R  E M P  U A N    Y A N G    M E N J A D I    I N S  P I R A S I
The more chances you give someone the more reason you give them to think that they can do anything and get away with it. (Ruby Dhal)





T A N G G A P A N    T E N T A N G    I S U    F E M  I N I S M E
Ketika seseorang mengenyam pendidikan, ia semakin dekat dengan mimpinya.










N O T E :
Ingin melihat catatan hari lainnya? Klik “ALMANAK” atau “SELECT A DATE” pada sidebar.
CONTACT ME” jika kamu menemukan kesalahan, typo atau punya kritik untuk artikel ini.

Menjadi Perempuan (Millennial) Indonesia

"You see," she said "your first love isn't the first person you give your heart to - it's the first one who break it." Lang Leav
Mengingat jumlah pantangan aktivitas ketika patah hati ini ada banyak, mari kita langsung bahas satu per satu. Pertama, adalah pantang bagimu untuk meng... (Apa? Harus ada prolog?) Baiklah pembaca yang budiman, mari kita masuk ke bagian prolog. Iya, dari sini lanjutkan saja membaca sampai ke paragraf dua. Mengapa? Karena paragraf pertama sudah penuh.
Layaknya rasa jatuh cinta, rasa patah hati pun memiliki misteri dan prinsip yang serupa. 'Datang tiba-tiba, pulang pelan-pelan'. Tak percaya? Coba saja tanya pada mereka (yang sedang jatuh cinta), “Bagaimana kamu bisa jatuh cinta dengannya?” Jawaban yang paling sering adalah, “Tiba-tiba... cinta datang kepadaku.” Sekali lagi, tanya pada mereka (yang sedang patah hati, kalau memungkinkan pada orang yang sama), “Bagaimana mungkin ini terjadi?” Jawaban yang paling sering adalah, “Aku pun tak menyangka, semuanya terjadi tiba-tiba.” Dari sini, mari sepakat bahwa prinsip ‘datang tiba-tiba’ adalah relatif benar.

Permasalahnya sekarang adalah prinsip ‘pulang pelan-pelan’ tersebut. Sangat jarang kita temui ada seseorang telah sembuh dari patah hatinya dengan tiba-tiba. Alih-alih menghibur diri, justru membohongi diri sendiri. Berdalih dari prinsip patah hati yang pulang pelan-pelan, justru mempertahankan patah hati yang bolak-balik di tempat yang sama.

Nah, agar kamu tak terkesan munafik tapi tetap terlihat asik dengan aktivitas patah hatimu, berikut beberapa pantangan yang perlu kamu hindari untuk mempercepat pulangnya patah hati ke tempat yang semestinya.

1. Pantang Terus Terkoneksi (Sementara) 

"Tidak baik memutus silaturahmi" dan itu memang betul. Oleh sebabnya ada kata 'sementara' terselip disana. Jika diselidiki lebih dalam, terkadang diri kita sendiri enggan untuk move on. Ini ibarat seorang  yang ingin menurunkan berat badan lalu mengatakan 'tak baik jika tak makan secara teratur.'. Maka itu betul. Yang menjadi masalah adalah itu dijadikan alasan untuk tetap mengkonsumsi kalori melebihi kebutuhannya. Apakah analogi cukup sepadan? Mari kita lihat di paragraf selanjutnya.

Jaman dahulu kala... atau sebut saja jaman 1920'an, sarana telekomunikasi sangat terbatas jika tak mau disebut nyaris tak ada. Hal ini digambarkan dalam berbagai kisah romantika sastra klasik yang mengisahkan tentang seorang pujangga yang ditolak atau mungkin dikhianati dan akhirnya patah hati. Setelahnya, sang pujangga pergi meninggalkan desa menuju kota dan ketika mencapai kesuksesan kembali ke desa tersebut. Ini mungkin hanya sebuah dongeng, namun tetap membawa nilai bahwa ketika sang pujangga pergi ke kota tidak benar-benar memutuskan hubungan, karena pada akhirnya ia kembali. Meskipun bukan untuk menjalin hubungan dengan orang yang sama, namun menunjukkan bahwa ia telah berhasil.

Penggalan kisah romantika itu masih terus menjadi bagian dari banyak orang, bahkan hingga kini. Namun, semakin meningkatnya teknologi komunikasi membuat generasi saat ini (dominannya Generasi-Y) sangat rentan dari wabah susah move on. Generasi saat ini bahkan bisa menjalin hubungan walau terpisah benua. Lalu bagaimana mungkin memutuskan koneksi yang nyaris mustahil? Jawabannya ada ditangan kamu masing-masing. Satu-satunya kesulitan terbesar adalah melawan kemauan diri sendiri. Kalau kita sudah sepakat untuk melawan keinginan tersebut, silakan lanjut ke point selanjutnya.

2. Pantang Stalking Media Sosial

Sebenarnya point no.2 sampai no.8 adalah uraian dari point no.1. Mengapa bisa begitu? Terserah penulisnya, kalau boleh menjawab. Pantang melakukan stalking. Maka sangat disarankan untuk menghapus koneksi dari media sosial termasuk dan tidak sebatas facebook, twitter, instagram, path, bbm, WA, snapchat dan skype. Ini terkesan (terbaca) arogan dan kekanak-kanakan, namun sebenarnya ini akan sangat efektif buat kamu yang suka mencari-cari alasan untuk kegiatan stalking yang berakhir di sesak move on.

3. Pantang Menyimpan Barang Kenang-Kenangan

Untuk menghindari benturan momen ketika kamu sedang bengong dan tiba-tiba terkesiap memandang barang pemberiannya. Episode selanjutnya biasanya akan terdengar gesekan biola, kemudian bulan mendekat, menarik kenangan, berlari dari kenyataan, kemudian.... mari kita hentikan sinetron ini. Paling tidak, cegah dari awal. Caranya? Hindari kemungkinan ini dengan membuang (hibahkan pada orang tak dikenal) semua barang tersebut. Tentang kenangan selanjutnya bisa menyusul.

4. Pantang Berkomunikasi dengan Orang Terdekatnya

Sekali lagi, ini bukan berlaku seumur hidup. Ini hanya untuk membuat kita fokus terhadap masa depan. Menarik diri dari lingkungan terdekatnya adalah salah satu upaya agar terhindar dari 'kenangan' yang membuat kamu sulit memandang ke depan.

5.Pantang Reuni Sebelum Move On

Reuni tak jauh dari kembali membawa kamu ke bagian tersulit yang harusnya sudah kamu lalui. Silakan reuni jika kau yakin telah move on. Silakan reuni jika kau yakin tak akan bertemu dengan si mantan. Silakan reuni jika kamu sudah dewasa dan menerima segala kemungkinan yang bisa terjadi.

6. Pantang Sendiri

Sendiri disini bisa bermakna ganda bahkan multipel. Sendiri bisa dalam arti lajang. Sendiri bisa juga dalam arti kamu tak memiliki kegiatan yang berujung kepada kebengongan. Cari kesibukan, keramaian, kesukaan, kalau bisa kekasih.

7. Pantang Cari Alasan

Sering kita mencari alasan atau pembenaran tentang apa yang kita lakukan, padahal kita sudah berkomitmen. Ini merupakan point terberat karena ini menyangkut integritas. Yang membuat komitmen adalah diri kita sendiri, maka jika pun melanggar maka tak seorang pun tahu. Disini kita bisa menilai seberapa integritas kita terhadap komitmen yang kita buat.

8. Pantang Menyerah

Poin terakhir kalau dalam partitur digambarkan dengan titik dua (:) artinya kembali ulangi. Ulangi? Silakan ulangin point 1-7, jika sudah menyerah lanjut ke poin ke-8 yang artinya ulangi poin ke-1 sampai ke-7. Menyerah? Pantang menyerah, Gen-Y!
Kesimpulan yang bisa ditarik dari semua hal yang saya sebut di atas adalah tidak ada. Kamu tidak perlu kamu melakukan anjuran tersebut jika kamu sangat yakin bahwa kemungkinan-kemungkinan yang saya ajukan bisa kamu tangkis denga kepercayaan diri. 

Intinya, tidak ada satu pun kata bijak atau nasihat yang absolut cocok untuk semua orang. Maksudnya, orang yang paling tepat dan paling bisa memberikan nasihat terhadap kamu adalah dirimu sendiri. Semua uraian ini dan artikel-artikel di luar sana hanyalah sebuah pandangan. Gunanya untuk membantu kamu menentukan pilihanmu, Gen-Y.
N O T E :
Ingin melihat catatan hari lainnya? Klik “ALMANAK” atau “Select a Date” pada sidebar.
CONTACT ME” jika kamu menemukan kesalahan, typo atau punya kritik untuk artikel ini.

8 Aktivitas yang Pantang Dilakukan Saat Patah Hati

"To be prepared is half to the victory."
(Miguel de Cervantes)
PROLOG
The content of prolog just one or two paragraphs. Simple. Too much paragraph in prolog makes reader boring. Prolog is shorter than the body of the text or article, but doesn't mean it's not important. I always take special attention to create a prolog. What for? Of course to make my reader keep reading till the end of the article. Yes, I know that I've said the quote took that responsibilities before. But, you know what, if you ask me: "When you decided to stop reading an article?" then I diffinately answer you: "Anytime, when I bored with that long journey text!" So, why you ever though to make some part of your text not important?" Think twice, gen-Y!
 
BODY
Body is all what you want to say. There's no limitation. Some article provides 15-20 paragraphs, another just 3-5 paragraphs for the body. So, it's up to you, which one you think can explain your pupose clearly. Ya! When you want to tell your reader about how to make english breakfast tea, maybe 3-5 paragraphs is good enough. But, when you want to explain how our digesty system working, you need more paragraph. Well, I wanna say that there's no rule. The rule just for followers not for you, Gen-Y.

Body is all what you want to say. There's no limitation. Some article provides 15-20 paragraphs, another just 3-5 paragraphs for the body. So, it's up to you, which one you think can explain your pupose clearly. Ya! When you want to tell your reader about how to make english breakfast tea, maybe 3-5 paragraphs is good enough. But, when you want to explain how our digesty system working, you need more paragraph. Well, I wanna say that there's no rule. The rule just for followers not for you, Gen-Y.

Body is all what you want to say. There's no limitation. Some article provides 15-20 paragraphs, another just 3-5 paragraphs for the body. So, it's up to you, which one you think can explain your pupose clearly. Ya! When you want to tell your reader about how to make english breakfast tea, maybe 3-5 paragraphs is good enough. But, when you want to explain how our digesty system working, you need more paragraph. Well, I wanna say that there's no rule. The rule just for followers not for you, Gen-Y.

Body is all what you want to say. There's no limitation. Some article provides 15-20 paragraphs, another just 3-5 paragraphs for the body. So, it's up to you, which one you think can explain your pupose clearly. Ya! When you want to tell your reader about how to make english breakfast tea, maybe 3-5 paragraphs is good enough. But, when you want to explain how our digesty system working, you need more paragraph. Well, I wanna say that there's no rule. The rule just for followers not for you, Gen-Y.

Body is all what you want to say. There's no limitation. Some article provides 15-20 paragraphs, another just 3-5 paragraphs for the body. So, it's up to you, which one you think can explain your pupose clearly. Ya! When you want to tell your reader about how to make english breakfast tea, maybe 3-5 paragraphs is good enough. But, when you want to explain how our digesty system working, you need more paragraph. Well, I wanna say that there's no rule. The rule just for followers not for you, Gen-Y. 
CONCLUTION
Hello, hello, hello. Hello from the outside, Adele! I mean, hello from the conclution part, Gen-Y. This part makes your reader remember all of the text or article that they've been read. Just write one or two paragraphs. But now I just write one paragraph (well, a half paragraph).

Oh, ya! Once again, althougt this paragraph took in the end, remember to keep all of your text important, so your reader will keep watching you! I mean, watching your text. I mean, reading your text. Oke, stop! Happy writing!

8 Elemen Wajib dalam Perencanaan untuk Mencapai Target

Tweet: "Women are the real architects of society."
—Harriet Beecher Stowe 















































































































 






N O T E:
Ingin melihat catatan hari lainnya? Klik “ALMANAK” atau “Select a Date” pada sidebar.
CONTACT ME” jika kamu menemukan kesalahan, typo atau punya kritik untuk artikel ini.

Digital dan Kebangkitan Wanita Indonesia

Tweet: "The only thing that you absolutely have to know is the location of the library."
(Albert Einstein)
Maaf, onten sedang dalam perbaikan. Silakan kembali pada tanggal 10 April 2017. IMaaf, onten sedang dalam perbaikan. Silakan kembali pada tanggal 10 April 2017. IMaaf, onten sedang dalam perbaikan. Silakan kembali pada tanggal 10 April 2017. IMaaf, onten sedang dalam perbaikan. Silakan kembali pada tanggal 10 April2017.IMaaf, onten sedang dalam perbaikan. Silakan kembali pada tanggal 10 April 2017.  


Tweet: "Knowledge is free at our library, just bring your own container."
 (Perpustakaan Unsyiah) 


Maaf, onten sedang dalam perbaikan. Silakan kembali pada tanggal 10 April 2017. IMaaf, onten sedang dalamperbaikan. Silakan kembali pada tanggal 10 April 2017. IMaaf, onten sedang dalam perbaikan. Silakan kembali pada tanggal 10 April 2017. IMaaf, onten sedang dalam perbaikan. Silakan kembali pada tanggal 10 April 2017.IMaaf, onten sedang dalam perbaikan. Silakan kembali pada tanggal 10 April 2017.
Maaf, onten sedang dalam perbaikan. Silakan kembali pada tanggal 10 April 2017. IMaaf, onten sedang dalam perbaikan. Silakan kembali pada tanggal 10 April 2017. IMaaf, onten sedang dalam perbaikan. Silakan kembali pada tanggal 10 April 2017. IMaaf, onten sedang dalam perbaikan. Silakan kembali pada tanggal 10 April 2017.IMaaf, onten sedang dalam perbaikan. Silakan kembali pada tanggal 10 April 2017.

Maaf, onten sedang dalam perbaikan. Silakan kembali pada tanggal 10 April 2017. IMaaf, onten sedang dalam perbaikan. Silakan kembali pada tanggal 10 April 2017. IMaaf, onten sedang dalam perbaikan. Silakan kembali pada tanggal 10 April 2017. IMaaf, onten sedang dalam perbaikan. Silakan kembali pada tanggal 10 April 2017.IMaaf, onten sedang dalam perbaikan. Silakan kembali pada tanggal 10 April 2017.

N O T E:
Ingin melihat catatan hari lainnya? Klik “ALMANAK” atau “Select a Date” pada sidebar.
CONTACT ME” jika kamu menemukan kesalahan, typo atau punya kritik untuk artikel ini.

Perpustakaan Seru: More Than Just A Library


"Jika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikannya"
(Stephanie Davidson)
Blaika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikanny ika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikanny ika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikanny ika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikanny ika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikanny

Blaika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikanny ika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikanny ika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikanny Blaika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikanny ika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikannyBla

Blaika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikanny ika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikanny ika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikanny ika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikanny ika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikanny

Blaika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikanny ika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikanny ika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikanny Blaika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikanny ika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikannyBla

Blaika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikanny ika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikanny ika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikanny ika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikanny ika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikanny

Blaika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikanny ika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikanny ika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikanny Blaika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikanny ika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikannyBla

Blaika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikanny ika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikanny ika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikanny ika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikanny ika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikanny

Blaika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikanny ika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikanny ika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikanny Blaika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikanny ika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikannyBla

Blaika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikanny ika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikanny ika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikanny ika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikanny ika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikanny

Blaika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikanny ika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikanny ika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikanny Blaika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikanny ika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikannyBla

Blaika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikanny ika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikanny ika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikanny ika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikanny ika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikanny
Blaika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikanny ika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikanny ika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk menyelesaikannyika tidak punya waktu untuk mengerjakannya di awal, kamu juga tidak punya waktu untuk

8 Alasan Mengatakan Nanti Pantang Bagi Generasi-Y

 "This is part of quote. The first line must be interesting or catching, and I am prety sure that quote is the best choice."
(Enjel Hutasoit)
PROLOG
The content of prolog just one or two paragraphs. Simple. Too much paragraph in prolog makes reader boring. Prolog is shorter than the body of the text or article, but doesn't mean it's not important. I always take special attention to create a prolog. What for? Of course to make my reader keep reading till the end of the article. Yes, I know that I've said the quote took that responsibilities before. But, you know what, if you ask me: "When you decided to stop reading an article?" then I diffinately answer you: "Anytime, when I bored with that long journey text!" So, why you ever though to make some part of your text not important?" Think twice, gen-Y!
 
BODY
Body is all what you want to say. There's no limitation. Some article provides 15-20 paragraphs, another just 3-5 paragraphs for the body. So, it's up to you, which one you think can explain your pupose clearly. Ya! When you want to tell your reader about how to make english breakfast tea, maybe 3-5 paragraphs is good enough. But, when you want to explain how our digesty system working, you need more paragraph. Well, I wanna say that there's no rule. The rule just for followers not for you, Gen-Y.

Body is all what you want to say. There's no limitation. Some article provides 15-20 paragraphs, another just 3-5 paragraphs for the body. So, it's up to you, which one you think can explain your pupose clearly. Ya! When you want to tell your reader about how to make english breakfast tea, maybe 3-5 paragraphs is good enough. But, when you want to explain how our digesty system working, you need more paragraph. Well, I wanna say that there's no rule. The rule just for followers not for you, Gen-Y.

Body is all what you want to say. There's no limitation. Some article provides 15-20 paragraphs, another just 3-5 paragraphs for the body. So, it's up to you, which one you think can explain your pupose clearly. Ya! When you want to tell your reader about how to make english breakfast tea, maybe 3-5 paragraphs is good enough. But, when you want to explain how our digesty system working, you need more paragraph. Well, I wanna say that there's no rule. The rule just for followers not for you, Gen-Y.

Body is all what you want to say. There's no limitation. Some article provides 15-20 paragraphs, another just 3-5 paragraphs for the body. So, it's up to you, which one you think can explain your pupose clearly. Ya! When you want to tell your reader about how to make english breakfast tea, maybe 3-5 paragraphs is good enough. But, when you want to explain how our digesty system working, you need more paragraph. Well, I wanna say that there's no rule. The rule just for followers not for you, Gen-Y.

Body is all what you want to say. There's no limitation. Some article provides 15-20 paragraphs, another just 3-5 paragraphs for the body. So, it's up to you, which one you think can explain your pupose clearly. Ya! When you want to tell your reader about how to make english breakfast tea, maybe 3-5 paragraphs is good enough. But, when you want to explain how our digesty system working, you need more paragraph. Well, I wanna say that there's no rule. The rule just for followers not for you, Gen-Y. 
CONCLUTION
Hello, hello, hello. Hello from the outside, Adele! I mean, hello from the conclution part, Gen-Y. This part makes your reader remember all of the text or article that they've been read. Just write one or two paragraphs. But now I just write one paragraph (well, a half paragraph).

Oh, ya! Once again, althougt this paragraph took in the end, remember to keep all of your text important, so your reader will keep watching you! I mean, watching your text. I mean, reading your text. Oke, stop! Happy writing!

8 Software yang Membuatmu Tampak Ahli dalam Komputer